BERITA

Jumlah Akuntan Indonesia Masih Belum Mencukupi Permintaan Domestik


12 May 2017

Pasar tunggal ASEAN dalam kerangka ASEAN Economic Community (AEC) 2015 sudah berjalan.Pasar tunggal ini telah membuka liberalisasi barang dan jasa di salah satu kawasan dengan tingkat pertumbuhan tertinggi tersebut. Di sektor jasa, ada delapan sektor jasa sudah dibuka persaingannya secara regional, salah satunya jasa akuntan.

Di Indonesia sendiri, perbandingan ketersediaan akuntan profesional dengan kebutuhan dunia kerja, masih cukup timpang. Data terakhir menunjukkan, setidaknya dibutuhkan sekitar 452 ribu akuntan. Padahal data Pusat Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai (PPAJP) Kemenkeu mencatat hanya tersedia kurang dari 16 ribu akuntan profesional.

“Kalau kondisi ini tidak dibenahi, diperkirakan ribuan akuntan regional akan datang berpraktik di Indonesia,” ujar Agus Suparto, Kepala Bidang Usaha Akuntan Publik PPAJP 

“Berdasarkan data, Malaysia, Singapura dan Thailand mempunyai jumlah akuntan yang jauh lebih banyak dari kita,” kata Agus. “Karena itu kita perlu langkah strategis untuk mempercepat pertumbuhan akuntan profesional dalam negeri, baik secara kualitas maupun kuantitas,” tambahnya.

Karena  itulah Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) hari ini meluncurkan silabus ujian Chartered Accountant (CA) Indonesia dalam rangka menyambut penyelenggaraan ujian CA. Ini adalah upaya menyejajarkan akuntan profesional Indonesia dalam kerangka persaingan di ASEAN Economic Community tahun 2015.

CA telah menjadi magnit. Tidak hanya bagi profesi, tapi juga bagi users dari berbagai sektor, sebut saja sektor privat, pemerintahan, akademisi, informal, dan banyak lagi. Hanya dalam kurun waktu setahun saja, sejumlah institusi telah mensyaratkan CA sebagai salah satu indikator kompetensi calon SDM mereka.

Sebagai sebuah sertifikasi, CA tidak dibentuk asal-asalan. CA merupakan jawaban IAI sebagai anggota International Federation of Accountants (IFAC) yang mengharuskan setiap anggotanya merupakan individu yang telah teruji integritas, etika dan kompetensinya, serta ter-update dengan perkembangan terkini dunia akuntansi.

Alasan itulah yang mendorong IAI segera menyelenggarakan ujian CA setiap tahunnya. 

Silabus CA yang akan memastikan kompetensi lulusan CA Indonesia berada di level yang seharusnya, mencakup tujuh aspek, yaitu; 1) Pelaporan Korporat, 2) Manajemen Stratejik dan Kepemimpinan, 3) Tata Kelola Korporat dan Etika, 4) Akuntansi Manajemen Lanjutan, 5) Manajemen Perpajakan, 6) Manajemen Keuangan Lanjutan, dan 7) Sistem Informasi dan Pengendalian Internal.

Kebutuhan dunia kerja Indonesia akan akuntan profesional jelas sangat tinggi. Hingga awal tahun ini saja, setidaknya 226 ribu organisasi di “Tanah Air” yang memerlukan jasa akuntan. Dengan asumsi satu organisasi setidaknya butuh mempekerjakan dua orang akuntan, akan terbuka peluang bagi 452 ribu akuntan profesional.

IAI mencatat, jumlah akuntan profesional yang teregistrasi sebagai anggota IAI hanya sebanyak 15.940 orang. Jumlah ini jauh di bawah akuntan profesional yang ada di negara tetangga. Malaysia memiliki 30.236 akuntan profesional, Filipina punya 19.573 akuntan, Singapura 27.394 akuntan, dan Thailand memiliki 56.125 akuntan. Dari sini saja tergambar peta persaingan menuju pasar tunggal ASEAN yang sudah di depan mata.

Di lain pihak, lulusan akuntansi dari perguruan tinggi se-Indonesia pada 2010 mencapai angka 35.304. Jumlah ini meningkat drastis dari tahun-tahun sebelumnya, 24.402 lulusan (2009), 25.649 (2008), 27.335 (2007), dan 28.988 (2006). Patut dipertanyakan, kemanakah para lulusan akuntansi itu? Hal ini jelas menjadi tantangan profesi untuk menyiapkan para lulusan akuntansi itu menjadi akuntan profesional.

Selain tugas besar meningkatkan jumlah akuntan profesional Indonesia, IAI akan terus menjaga integritas, etika, dan kompetensi CA Indonesia untuk membantu entitas dan dunia kerja (users) mencapai tujuannya. Di sisi lain, dunia kerja akan menjadi lapangan bagi CA untuk berkarya.

Karena itu, CA ini akan menjadi masa depan profesi akuntan. Ketika CA dan dunia kerja bisa menciptakan simbiosis mutualisma, maka masa depan profesi, sekaligus masa depan dunia bisnis Indonesia akan terjamin dengan sendirinya.